Setelah memastikan kelima petarung itu tidak akan mampu lagi untuk bertahan, Lynx berpaling ke Leena yang masih berdiri dengan tubuh lemah. Tanpa sepatah kata pun, ia segera meraih Leena dan dalam sekejap, sosok mereka berdua lenyap dari arena pertarungan kematian, laksana bayangan yang tertelan angin malam.

"Sudah cukup aku bermain-main dengan mereka. Aku telah memahami kemampuan mereka. Kini aku harus segera kembali ke Planet Yura, menemui sang teknisi, dan menyelamatkan Lala," batin Lynx, langkahnya secepat kilat menembus lorong-lorong arena. Gelang yang sejak awal digunakan telah lama dilepasnya, menghilangkan jejak kehadirannya.

Kurang dari satu detik, Lynx sudah berada di bangunan tempat dia meletakkan Isha bersama Leena. Karena sudah memahami kemampuan Lynx, Leena hanya diam mengikuti Lynx sambil mengendalikan qi spiritual untuk menyembuhkan lukanya.

Tanpa ragu, Lynx mengangkat tubuh Isha yang masih terbaring tak sadarkan diri. Tatapannya sejenak menengadah ke langit kelam, dan dengan satu gerakan tangan yang mengalir bagaikan arus Qi, sebuah pusaran teleportasi terbuka, membentuk jalur menuju Planet Yura, yang jaraknya tidak terlalu jauh bagi Lynx dari tempat arena kematian diadakan.

Dalam sekejap, ketiganya menghilang dari pandangan, meninggalkan arena yang kini hanya dipenuhi kegelisahan dan kebingungan. Para penonton masih terpaku, belum sepenuhnya mampu memahami peristiwa luar biasa yang baru saja terjadi.

Sara dan Eliza, dengan cemas, terus mencari jejak Lynx dan Leena lewat monitor, namun bayangan mereka pun tak tersisa.

"Sara, apa menurutmu Lynx dan Leena sudah tewas terkena serangan mereka?" Bisik Eliza di telinga Sara.

"Aku tidak yakin. Dia bisa bergerak sangat cepat. Menghindar dari serangan mereka tentu sangat mudah." Jawab Sara pelan. Tubuh mereka berdua keluar keringat dingin membayangkan apa yang akan dilakukan pimpinan mereka jika benar Lynx dan Leena melarikan diri.

Begitu tiba di Planet Yura, Lynx dan Leena segera bergerak menuju sebuah bangunan tempat sang teknisi tua yang dahulu membuatkan komponen mesin rusak. Untuk menghindari perhatian karena lingkaran teleportasi yang dibuatnya, Lynx menurunkan tubuh mereka di tempat sunyi di luar kota.

"Lynx, apa yang terjadi dengan Isha? Mengapa dia tidak sadarkan diri?" tanya Leena, nada suaranya mengandung kekhawatiran.

"Aku hanya membuatnya tertidur untuk sementara, karena aku harus kembali ke arena," jawab Lynx dengan santai.

"Kenapa tidak kamu bangunkan sekarang? Aku khawatir akan keadaannya," desak Leena, matanya menatap lekat ke arah Isha.

"Dia baik-baik saja. Aku akan membawanya ke penginapan dan membaringkannya di sana. Kau pergilah lebih dulu," ujar Lynx, sebelum sosoknya menghilang bersama Isha meninggalkan Leena sendirian.

Setibanya di penginapan, Lynx mengangkat Isha dengan hati-hati dan mengatur sebuah formasi. Cahaya samar berputar membentuk pola kuno, menciptakan penghalang tak kasatmata, persis seperti formasi yang pernah ia gunakan untuk mengurung Lala sebelumnya.

Setelah memastikan keselamatan Isha, Lynx menyusul Leena menuju rumah teknisi dengan penuh harap. Hanya pria tua ini yang mampu membantu mereka untuk bisa segera menemukan Lala.

Setibanya di depan bangunan tersebut, Lynx segera masuk kedalam. Tempat itu dipenuhi dengan alat-alat canggih dan suara berdengung dari mesin yang bekerja tanpa henti. Mereka menuju ruang laboratorium, tempat teknisi yang dipercaya untuk memperbaiki komponen mesin dimensi milik Lala.

"Lynx, apakah aman membiarkan Isha sendirian di penginapan? Bagaimana jika mereka menemukannya? Usaha kita akan sia-sia." Tanya Leena saat melihat Lynx datang.

"Aku sudah membuat formasi. Dia akan baik-baik saja. Bagaimana komponennya? Apakah sudah jadi?" Tanya Lynx dengan nada cemas.

"Aku belum bertemu dengan pria tua tersebut. Anak buahnya mengatakan bos mereka sudah beberapa hari pergi dan belum kembali." Leena menghembuskan napas panjang. Dia merasa khawatir jika pria tua tersebut gagal atau membawa kabur bijih besi Rundaril milik mereka, karena itu hanya satu-satunya yang mereka miliki.

Lynx terdiam dan menutup matanya untuk berkonsentrasi berusaha merasakan jejak energi yang sengaja di tinggalkannya di tubuh pria tua tersebut.

Tiga hari yang lalu, Lynx sudah merasakan pria tua tersebut pergi dari planet Yura, namun Lynx tidak merasa khawatir. Karena dengan jejak yang ditinggalkannya, dia bisa menemukan pria tua tersebut dengan mudah.

"Dia tidak akan bisa pergi dari kita. Aku bisa merasakan dia sedang perjalanan ke tempat ini dengan cepat. Dalam beberapa jam, kita akan bertemu dengannya." Lynx menenangkan Leena yang terlihat cemas.

Leena menganggukkan kepala, dia percaya penuh terhadap Lynx."Apa yang kita lakukan sekarang sambil menunggu kedatangannya?"

"Ikuti aku!" Lynx segera keluar bangunan dan melompat tinggi keatas sebuah atap bangunan.

"Duduklah. Aku akan mengobatimu sambil menunggu pria tua itu datang." Kata Lynx dengan lembut.

***

Di sebuah ruangan besar yang dilapisi baja, terdapat sebuah kurungan berbentuk kotak besar dengan lapisan kaca bening, yang di dalamnya terdapat jeruji terbuat dari sinar laser. Setiap kontak dengan jeruji itu akan berisiko menimbulkan luka bakar atau potongan yang dalam, memberikan ancaman yang sangat serius bagi siapa saja yang mencoba mendekat.

Didalam kurungan tersebut terdapat seorang wanita muda cantik tanpa busana yang terbelenggu di tiang dalam posisi berdiri dan kedua tangan terikat menggantung. Kecantikannya jelas terlihat, meski dalam keadaan yang penuh penderitaan. Ruangan itu juga dipenuhi dengan berbagai perangkat teknologi canggih yang memantau dan merekam perubahan energi yang terjadi pada tubuhnya. Seorang pria yang memandangnya, tidak akan tahan untuk tidak menikmati keindahan tubuh wanita tersebut, namun bagi yang mengetahui alasan kenapa wanita tersebut diperlakukan seperti itu, tidak akan berani berpikir dua kali untuk mendekatinya.

Di dekat kurungan tersebut, seorang wanita berkacamata, terlihat seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti data. Salah satu layar di panel komputer menunjukkan grafik ritme jantung wanita yang terikat, mencerminkan ketegangan yang luar biasa pada tubuhnya.

Wanita berkacamata itu ditugaskan untuk menganalisis kekuatan yang dimiliki oleh subjek ini. Sebelumnya, wanita tersebut telah menunjukkan kemampuan luar biasa setelah efek hipnotis yang diberikan oleh Kanaya hilang. Tidak ada satupun prajurit yang dapat mengalahkannya, dan menimbulkan keributan di maskar besar mereka. Untuk menahan kekuatannya, wanita tersebut akhirnya dilumpuhkan dengan gas bius dan dikurung dengan sinar laser yang menghalanginya untuk bergerak bebas.

Di ruangan lain tidak jauh dari tempat wanita tersebut ditahan, sosok Kanaya duduk santai di kursinya, jari-jarinya cepat bergerak di atas layar smartphone, asyik dengan permainan yang sedang ia mainkan. Itu adalah kebiasaan yang ia lakukan saat tidak sedang menjalankan misi.

Di dekatnya, seorang pria berpakaian seragam berdiri berbicara dengan seorang pria tua yang berkacamata, mengenakan kemeja putih sederhana. Suasana antara mereka tampak tegang dengan pembicaraan mengenai hasil penelitian yang mereka lakukan selama beberapa hari ini.

Sebelumnya, Kanaya telah berhasil menjalankan misinya dengan membawa Lala ke markas besar. Namun, begitu mereka tiba di sana, Lala, yang sebelumnya berada di bawah pengaruh hipnotis, melepaskan diri dengan kekuatan luar biasa. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi kacau, dan Lala mulai menunjukkan kekuatan yang mengerikan.

Sejak awal, Lala bukanlah wanita biasa. Dia memiliki kemampuan bela diri yang hebat, yang ia warisi dari pelatihan keras yang diberikan oleh kakeknya. Ditambah saat ini ia juga menguasai seni Kultivasi, membuatnya menjadi sosok yang susah di cari lawannya di dunia ini. Kini, siapapun yang berhadapan dengannya akan merasakan kedahsyatan kekuatannya yang tak terduga.

"Dokter Zhang, penelitian yang sudah kamu lakukan selama beberapa hari ini, bagaimana hasilnya?" Pria tersebut bertanya dengan nada tegas.

"Komandan Vex, formula yang diberikan oleh profesor Lala sudah dipelajari dan semua yang dia katakan sangatlah sesuai. Dengan ini hanya masalah waktu untuk dapat menciptakan pil super seperti yang di ciptakan profesor Milo."Jawab dokter Zhang dengan gembira.

"Berapa lama kamu dapat membuatnya?" Komandan Vex bertanya kembali.

"Aku perlu menyiapkan peralatan dan bahan utama, sel khusus. Untuk tahap pertama, dalam dua bulan pil sudah bisa kita buat dan diujicobakan." Jawab dokter Zhang cepat

Setelah Lala berhasil dilumpuhkan, Kanaya menghipnotis nya kembali dan tanpa Lala sadari, dia menceritakan semua hal yang diketahuinya termasuk mengenai hasil penelitian ayahnya, profesor Milo, sehingga dengan penelitian tersebut, rencana komandan Vex untuk menciptakan banyak prajurit super akan segera terwujud.

